Minggu, 26 Oktober 2008

macam dan type Solar Cell

Secara Umum, solar cell atau dikenal PV Module adalah media yg mengconversi energy surya (Irradiance
W/m2) menjadi Power (voltage - Current).Dengan dasar ini berbagai media diciptakan dengan karakteristik berdasar materi penyusunnya.
Silicon(setelah ditemukan bequarel 1826)dikenal paling ampuhdan sangat bagus dalam hal ini, tapi sejak harganya ygtinggi segala macam cara dilakukan.
1 silicon murni (tebalnya dalam 200-400 micro meter)
2. Poly crystalline (telah dicampur dengan bahan intrinsik lain)
3. Amorphous Silicon, bahan yg murah dengancharakteristik yg unik
4. Cadmium Teluride (CadTel) Campuran Cadmium sangatsensitif dalam merespon spectral dan irradian matahari
5. CIGS (Cupper Indium Diselinide) bahan ini sangatlentur dan effeciencynya cukup baik(3,4,5 adalah materi yg dikenal thin film tebalnya 800nanometer-1 micro meter)
6. Hydrogen, bahan ini diciptakan dengan concentratoryg cukup mahal, dan dgn keteliatian yg baik (lihatsitus)http://www.shec-labs.com/process.phpdalam pasaran (komersial)no1-5 yg banyak beredar,effecieny 20-28 % (no1-2), sedang 8-16 % utk (no3-5)kalau memilih sekali lagi, silikon murni (single ataupun poly cystalline) sangat mahal dibanding no3-5.thin film (no3-5) sangat menarik saat ini, mestisedikit rendah efficiencynya, tapi harganya jauh lebihmurah. serta karakteristiknya sangat baik utk daerahtropis.

Seperti diketahui, solar cell di operasikan pasa suhu 25-30 derajat diatas suhu test manufacture (STC/standar test condition : yakni 1000 w/m2 irradiance, 25 derajat celcius 1.5 air mass ) sehingga hampir semua solar cell akan mengalami perubahan secara segnifican saat di operasikan di actual condition. sehingga semua data baik itu effeciancy, power yg dihasilkan, temperature coefficient, fill factor yg terdapat pada manualnya akan tidak sama dgn actualnya saat dioperasikan. semua material akan mengalami penurunan efeciency power saat meningkat temperature operasinya khususnya materi Crystalline (singgle dan Poly) sehingga kurang tepat untuk Indonesia yg suhu operasinya module bisa 5-10 kali suhu abient /suhu rata2 di sekitar solar module. materi amorphous sangat yang mana pada kenaikan suhu operasi malah memberi recovery dari degradation efeciecny ini yg dikenal dengan annealing. nah berapa persen, kapan dlll secara khusus mungkin kita diskusikan lain waktu, artinya ini berpengaruh pada kemampuan energy production amorphous lebih baik utk daerah tropis dhn materi lain khususnya single/poly crystalline silicon. sekalilagi, lebih murah, dan lebih baik.

Tidak ada komentar: